Economy IN DO

Ekonomi dan Keuangan

Kopi, Kode, dan Keberanian

Senin yang Tidak Biasa di Sudirman

Jakarta punya seribu wajah. Dan di pagi hari, wajah yang paling sering muncul adalah wajah orang-orang yang belum minum kopi tapi sudah terjebak macet di Jalan Sudirman. Tapi Rina Hartono bukan salah satu dari mereka. Bukan karena dia sudah minum kopi – dia belum – tapi karena dia naik MRT seperti orang beradab, sambil membaca laporan keuangan Q3 di layar ponselnya yang retak di pojok kanan atas. Retakan itu sudah ada sejak dia menjatuhkan ponselnya di tangga stasiun Bundaran HI tiga bulan lalu. Dia tidak menggantinya bukan karena tidak mampu, tapi karena menurut filosofi pribadinya, barang yang masih berfungsi tidak perlu diganti. Beberapa orang menyebutnya frugal. Dia menyebutnya rasional.

Rina berusia dua puluh tujuh tahun, bertubuh kecil, berambut pendek sebahu, dan memiliki kemampuan langka untuk membuat spreadsheet yang begitu cantik hingga managernya pernah berkata, “Rina, ini bukan Excel, ini seni.” Dia bekerja sebagai business analyst di sebuah perusahaan teknologi finansial bernama ModalKu – bukan nama aslinya, tapi cukup mirip untuk memberi gambaran. Kantornya ada di lantai empat belas gedung perkantoran di kawasan SCBD, dengan pemandangan Jakarta yang pada hari cerah bisa terlihat sampai ke laut, dan pada hari biasa terlihat sampai ke gedung sebelah karena polusi.

Pagi ini, sesuatu yang berbeda terjadi. Ponselnya bergetar dengan notifikasi dari Bagas – sahabatnya sejak kuliah di UI, yang sekarang bekerja sebagai software engineer di perusahaan e-commerce yang logonya ada di setiap ojek online di seluruh Indonesia.

“Rin, ketemu gue jam makan siang. Ada sesuatu yang bisa bikin kita kaya. Atau minimal bikin kita berhenti ngeluh soal harga parkir.”

Nasi Padang dan Pitch Deck

Mereka bertemu di rumah makan Padang dekat Blok M. Bukan karena nostalgia – meskipun mereka memang dulu sering makan di sini waktu masih mahasiswa – tapi karena nasi Padang adalah makanan paling demokratis di Indonesia. Tidak peduli kamu CEO atau magang, porsinya sama besarnya dan sama enaknya.

Bagas sudah duduk di pojok, di depannya berjajar enam piring kecil yang isinya sudah berkurang separuh. Di sebelah piringnya ada laptop yang stiker-stikernya lebih banyak dari aplikasi yang terinstall di dalamnya.

“Jadi gini,” kata Bagas sambil mengunyah rendang, yang merupakan cara paling Bagas untuk memulai percakapan penting, “lo tau kan berapa banyak UMKM di Jakarta yang nggak punya akses ke modal kerja?”

Rina tahu. Secara profesional, dia sangat tahu. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa sekitar 64 persen usaha mikro dan kecil di Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam mengakses pembiayaan formal. Di Jakarta saja, dengan ekosistem perbankan yang relatif maju dibanding daerah lain, angka penetrasi kredit produktif untuk segmen mikro masih di bawah 30 persen. Bukan karena pelaku usahanya tidak layak, melainkan karena model penilaian risiko konvensional tidak mampu menangkap profil kredit mereka yang seringkali bersifat informal dan tidak terdokumentasi secara standar.

“Gue tahu,” kata Rina sambil menuang teh botol ke gelasnya. “Dan lo mau bilang apa? Lo punya solusinya?”

Bagas tersenyum. Senyum yang sama seperti saat dia berhasil meng-hack sistem absensi kampus di semester empat – penuh kebanggaan dan sedikit berbahaya.

“Bukan cuma gue. Kita.”

Ide yang Lahir di Antara Gulai dan Sambal

Konsepnya begini. Bagas sudah mengembangkan prototipe sebuah platform yang memanfaatkan data transaksi digital – dari e-wallet, marketplace, dan media sosial bisnis – untuk membangun profil kredit alternatif bagi pelaku UMKM. Bukan credit scoring tradisional yang bergantung pada riwayat perbankan dan agunan fisik, tapi sebuah sistem yang ia sebut “trust graph” – jaringan kepercayaan berbasis data perilaku ekonomi digital.

Misalnya begini. Ibu Sari jualan nasi uduk di Tanah Abang. Dia tidak punya rekening tabungan, tidak punya slip gaji, dan jelas tidak punya laporan keuangan yang diaudit. Tapi dia punya akun di tiga marketplace, riwayat transaksi GoPay selama dua tahun, dan 4.800 followers di Instagram yang secara konsisten memesan setiap minggu. Data-data ini, kalau diolah dengan benar, bisa menggambarkan kapasitas dan konsistensi bisnisnya jauh lebih akurat daripada formulir aplikasi kredit setebal tiga puluh halaman.

“Lo butuh gue buat apa?” tanya Rina, meskipun dia sudah tahu jawabannya.

“Model bisnisnya. Financial projection. Pitch deck yang bikin investor nangis terharu terus buka dompet. Lo tahu kan, gue bisa bikin algoritma yang cantik, tapi kalau disuruh bikin proyeksi revenue gue malah bikin proyeksi kapan matahari padam.”

Rina tertawa. Bagas memang begitu – brillian di satu bidang, hopeless di bidang lain. Seperti kebanyakan engineer yang Rina kenal, mereka bisa membangun sistem yang melayani jutaan pengguna tapi tidak bisa mengajukan klaim asuransi tanpa bantuan.

“Oke,” kata Rina. “Tapi gue punya syarat.”

“Apa?”

“Kita nggak bikin ini jadi startup yang bakar duit. Gue muak lihat perusahaan yang GMV-nya triliun tapi nggak pernah profit. Model bisnis kita harus sustainable dari hari pertama. Unit economics yang sehat, path to profitability yang jelas, dan nggak ada cerita subsidi gila-gilaan buat akuisisi pengguna.”

Bagas mengangkat gelasnya. “Deal.”

Mereka bersalaman di atas piring rendang. Mungkin bukan tempat paling glamor untuk mendirikan perusahaan, tapi di Jakarta, kesepakatan terbaik memang sering terjadi di tempat-tempat yang paling tidak terduga.

Malam di Coworking Space Kuningan

Dua minggu kemudian, Rina dan Bagas sudah punya rutinitas baru. Setiap malam setelah pulang dari pekerjaan utama masing-masing, mereka bertemu di coworking space di kawasan Kuningan. Tempatnya bernama Ruang Karya – dikelola oleh seorang mantan konsultan McKinsey bernama Pak Hendra yang memutuskan bahwa membantu startup muda lebih memuaskan daripada membuat slide deck untuk konglomerat yang sudah terlalu kaya untuk peduli.

Pak Hendra, lima puluh tiga tahun, berkepala botak, selalu memakai batik bahkan di hari Sabtu, dan punya kebiasaan muncul di belakang orang yang sedang bekerja lalu berkomentar, “Margin-mu terlalu tipis,” sebelum menghilang ke dapur untuk membuat kopi.

Pada malam ketiga belas, Pak Hendra melakukan sesuatu yang berbeda. Dia duduk di depan Rina dan Bagas, meletakkan secangkir kopi hitam tanpa gula di atas meja, dan berkata dengan nada yang biasanya dipakai dokter untuk menyampaikan hasil lab yang penting.

“Saya sudah baca pitch deck kalian. Tiga kali.” Dia menyeruput kopinya. “Dan saya mau investasi.”

Rina dan Bagas saling pandang. Reaksi mereka mungkin tidak se-dramatis di film – tidak ada musik latar yang mengharukan atau slow motion – tapi jantung Rina berdetak sedikit lebih cepat dan Bagas hampir menjatuhkan laptopnya dari meja.

“Berapa?” tanya Rina, karena dia adalah tipe orang yang langsung ke angka.

“Cukup untuk enam bulan runway. Dengan asumsi kalian tetap frugal, yang berdasarkan pengamatan saya terhadap kebiasaan makan kalian di warung Padang, sepertinya tidak akan jadi masalah.” Pak Hendra tersenyum tipis. “Tapi saya punya syarat juga.”

“Apa?”

“Kalian harus punya co-founder ketiga. Seseorang yang mengerti regulasi. Fintech di Indonesia itu bukan main-main – OJK tidak bercanda soal kepatuhan, dan kalau kalian mau bermain di ranah credit scoring alternatif dan penyaluran pembiayaan, kalian perlu seseorang yang bisa tidur nyenyak sambil bermimpi tentang POJK Nomor 77 tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi beserta seluruh perubahannya.”

Devi Masuk ke Permainan

Pak Hendra mengenal seseorang. Namanya Devi Kusuma, tiga puluh satu tahun, lulusan hukum Universitas Gadjah Mada yang kemudian mengambil master di bidang financial regulation di Singapura. Devi pernah bekerja di OJK selama empat tahun sebelum pindah ke firma hukum yang menangani klien-klien fintech terbesar di Asia Tenggara. Yang lebih penting lagi, Devi adalah orang yang bisa menjelaskan regulasi yang rumit dengan bahasa yang dimengerti manusia biasa, sebuah kemampuan yang di industri hukum bisa dianggap sebagai superpower.

Pertemuan pertama mereka bertiga terjadi di kafe di lantai dasar gedung perkantoran di Mega Kuningan. Devi datang tepat waktu – yang di Jakarta adalah prestasi tersendiri – membawa tas kulit yang isinya ternyata bukan dokumen legal, melainkan laptop, charger, dan tiga bungkus Indomie goreng yang dia sebut sebagai “emergency fuel.”

“Jadi kalian mau bikin alternative credit scoring platform untuk UMKM,” kata Devi setelah mendengarkan penjelasan lima belas menit dari Rina dan demo produk dari Bagas. “Menggunakan data transaksi digital dan social proof. Menarik. Dan secara regulasi, sebenarnya feasible – asalkan kalian melakukan beberapa hal dengan benar.”

Devi mengeluarkan pena dan mulai menulis di serbet – kebiasaan yang dia bagikan dengan hampir setiap orang jenius yang Rina pernah temui. Dalam konteks kerangka regulasi yang berlaku, platform seperti ini perlu memperhatikan beberapa aspek kritikal. Pertama, kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data pribadi sesuai UU PDP yang baru disahkan. Kedua, mekanisme consent management yang transparan untuk penggunaan data transaksi pengguna. Ketiga, kemitraan formal dengan lembaga keuangan berizin sebagai penyalur pembiayaan, karena tanpa itu mereka akan masuk ke wilayah abu-abu yang bisa membuat OJK mengetuk pintu mereka pagi-pagi.

“Tapi kabar baiknya,” Devi melipat serbet itu dan memasukkannya ke saku, “semua ini bisa diatur. Dan saya kebetulan sedang mencari alasan untuk berhenti dari pekerjaan yang membosankan.”

Bagas mengulurkan tangan. “Welcome aboard.”

“Tunggu,” kata Devi. “Saya juga punya syarat.”

Rina hampir tertawa. Semua orang di cerita ini punya syarat.

“Nama perusahaannya jangan pakai bahasa Inggris yang dipaksakan. Saya lelah dengan startup yang namanya kayak penyakit – Tokkenize, Fundrrr, CashFlowly. Kita ini perusahaan Indonesia yang melayani orang Indonesia. Namanya harus punya makna.”

Ketiganya diam sejenak. Lalu Rina berkata, “Gotong. Seperti gotong royong. Karena pada dasarnya itulah yang kita bangun – sistem di mana orang saling topang secara finansial melalui teknologi.”

Devi dan Bagas saling lihat. Lalu mengangguk hampir bersamaan.

“Gotong,” ulang Bagas. “Pendek, gampang diingat, dan kalau di-Google nggak muncul hasil yang aneh. Sempurna.”

Tiga Bulan Kemudian di Gedung OJK

Rina tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dia akan berdiri di ruang presentasi Otoritas Jasa Keuangan, menjelaskan model bisnis kepada lima orang yang wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun selama empat puluh menit pertama. Tapi di sinilah dia – di dalam ruangan ber-AC terlalu dingin, dengan proyektor yang sempat error tiga kali, mempresentasikan Gotong kepada tim regulatory sandbox OJK.

Devi duduk di sebelahnya, tenang seperti orang yang sudah terbiasa berada di ruangan ini – yang memang benar. Bagas ada di belakang, siap dengan demo live platform yang sudah diuji coba dengan seratus UMKM di area Tanah Abang dan Pasar Senen selama dua bulan terakhir.

Hasilnya? Dari seratus pelaku usaha yang dianalisis menggunakan sistem trust graph Gotong, delapan puluh tiga di antaranya ternyata memiliki profil kredit yang layak menerima pembiayaan mikro – sementara dengan metode scoring konvensional, hanya dua belas yang akan lolos. Tingkat keterlambatan pembayaran selama periode uji coba? Hanya 4,7 persen. Lebih rendah dari rata-rata industri peer-to-peer lending nasional yang berkisar di angka 7 hingga 9 persen.

Salah satu penguji – seorang perempuan berkacamata yang selama presentasi tidak berkata apa-apa – akhirnya membuka mulut.

“Data kalian menarik. Model bisnisnya masuk akal. Tapi saya mau tahu satu hal – apa yang membuat kalian yakin ini bukan sekadar eksperimen teknologi yang bagus di atas kertas tapi gagal di skala besar?”

Rina menarik napas. Ini pertanyaan yang sudah dia persiapkan jawabannya sejak malam pertama di coworking space Kuningan.

“Karena ini bukan tentang teknologi, Bu. Teknologi hanya alat. Yang kami bangun adalah jembatan kepercayaan. Di Indonesia, kepercayaan itu sudah ada – di setiap arisan, di setiap warung yang memberi hutang langganan, di setiap pedagang pasar yang saling jamin. Kami hanya mendigitalkan sesuatu yang sudah menjadi budaya kita selama berabad-abad. Gotong royong versi abad kedua puluh satu.”

Ruangan hening selama beberapa detik. Kemudian penguji itu melakukan sesuatu yang menurut Devi sangat jarang terjadi di ruangan itu.

Dia tersenyum.

Epilog di Warung Kopi Pinggir Jalan

Malam itu, setelah mendapat persetujuan masuk regulatory sandbox – yang berarti mereka resmi bisa beroperasi dalam pengawasan selama dua belas bulan – Rina, Bagas, dan Devi tidak merayakannya di rooftop bar mewah atau restoran berbintang. Mereka duduk di warung kopi pinggir jalan di Cikini, di kursi plastik yang satu kakinya lebih pendek sehingga bergoyang setiap kali seseorang bergerak.

Kopi mereka masing-masing harganya enam ribu rupiah. Totalnya delapan belas ribu untuk tiga cangkir. Lebih murah dari satu kali parkir mobil di SCBD.

“Kita baru di awal,” kata Rina sambil meniup kopinya yang masih mengepul. “Masih banyak yang harus dibangun. Masih banyak yang bisa salah.”

“Tapi banyak juga yang bisa benar,” sahut Devi.

Bagas tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangkat cangkir kopinya, dan dua yang lain melakukan hal yang sama. Tiga cangkir kopi bertemu di udara malam Jakarta yang lembap dan bising dan penuh polusi dan entah bagaimana tetap terasa seperti rumah.

Di seberang jalan, seorang ibu sedang menutup warung kelontongnya. Mungkin suatu hari nanti, dia akan membuka aplikasi Gotong di ponselnya, dan untuk pertama kalinya, seseorang akan melihat bahwa bisnisnya yang kecil itu punya nilai yang selama ini tidak pernah bisa ditangkap oleh sistem mana pun.

Dan mungkin itulah yang paling penting. Bukan valuasi miliaran, bukan headline di Tech in Asia, bukan foto bertiga di majalah Forbes. Tapi seorang ibu di seberang jalan yang akhirnya dilihat.

Jakarta berdetak terus. Dan di suatu sudut kecilnya, sesuatu yang baru sedang bernapas untuk pertama kalinya.